Senin, 05 September 2011

Industri Rokok di Indonesia? Baik atau buruk?

05 September 2011
Dosen tamu : Bpk Irwan Julianto


Kelas Kapita Selekta kedatangan dosen tamu, yaitu Bpk Irwan Julianto seorang wartawan senior Kompas. Beliau terlihat sudah berumur, terlihat dari rambutnya yang beruban, namun tetap terlihat sehat dan santai dengan penampilannya yang memakai celana jeans dan kaos kerah.


Dalam kelas yang dibawakan oleh Bpk Irwan Julianto, saya dan seluruh mahasiswa yang mengikuti kelas tersebut diajak menonton sebuah film dokumenter berjudul Sex, Lies, and Cigarettes. Film tersebut bercerita mengenai seorang jurnalis bernama Christof Putzel asal Amerika yang ingin tahu perkembangan industri rokok di negara-negera miskin-berkembang, terutama Indonesia.


Dalam film tersebut, Christof Putzel sangat terkejut ketika sampai di Indonesia. Dia melihat begitu banyak billboard atau papan iklan rokok, mulai dari dia tiba di bandara sampai di sepanjang perjalanannya. Karena di Amerika khususnya New York, billboard besar dan papan iklan rokok seperti itu sudah tidak hampir tidak ada.


Industri rokok sangat berkembang di Indonesia, dilihat dari banyaknya iklan-iklan yang bermunculan di berbagai media, khususnya media elektronik yaitu televisi. Banyak iklan-iklan rokok yang disiarkan dalam jam-jam utama (prime-time), dimana hampir berbagai usia seperti anak-anak dan remaja dapat menonton iklan tersebut.


Salah satu industri rokok bahkan  sampai menjadi sponsor utama Liga Sepakbola Indonesia (LSI). Seperti yang kita ketahui, hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tua-muda, kaya-miskin pasti menyukai sepakbola. Industri rokok lainnya memilih untuk mensponsori acara konser musik yang notabene acara tersebut ditujukan bagi para remaja, bahkan sampai mendatangkan artis musisi terkenal dari luar negeri, tentu saja artis yang sedang digandrungi oleh para remaja. Baik ada pertandingan sepakbola di stadion sepakbola maupun di tempat konser musik, pasti banyak remaja yang datang dan tidak sedikit yang merokok.


Tidak hanya remaja yang sudah merokok, seorang bocah bahkan sudah merokok. Bocah tersebut bernama Aldi Suganda asal Sumatera. Bocah gendut ini menghebohkan dunia karena ia adalah perokok aktif yang paling muda. Berita ini tersebar sampai London karena video Aldi yang sedang asik merokok direkam oleh seseorang yang kemudian disebarluaskan melalui media internet. Hal tersebut mengundang berbagai komentar dari masyarakat dunia, "orang tua seperti apa yang membiarkan anaknya merokok seperti itu?"


Jika seseorang ingin membeli sebungkus rokok di New York, setidaknya ia harus merogoh kocek sebesar $12. Namun, seseorang dapat membeli sebungkus rokok dengan harga tidak sampai $2 di Indonesia khususnya Jakarta. Ironisnya, seorang bocah atau remaja di bawah umur dapat membeli rokok dengan bebas di warung-warung pinggiran bahkan warung yang dekat dengan sekolah. Berbeda di New York dimana hal tersebut adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum, penjual dapat di penjara jika menjual rokok kepada bocah dan remaja yang ingin membeli.


Rokok sendiri ibarat koin dengan sisi yang saling berlawanan namun tetap kesatuan. Di sisi lain rokok itu sendiri tidak perlu dijelaskan lagi efek negatifnya, bahkan dilabel rokok tertulis : peringatan pemerintah tentang bahaya rokok yang dapat menimbulkan bahaya kanker, serangan jantung dan impotensi. Namun, di sisi lain banyak pekerja, petani tembakau, dan industri lainnya yang bergantung hidupnya dari industri rokok. Bahkan cukai rokok adalah penyumbang  yang cukup besar dalam APBN.


Jadi, apakah industri rokok itu baik atau buruk? Tergantung kalian memihak dan melihat dari sisi koin yang mana.


Pesan: Bagi yang tidak suka merokok, maka tunjukkan dengan tidak merokok. Bagi kalian para perokok, tolong jangan merokok di tempat umum. Carilah tempat merokok yang telah disediakan.


Sumber :
Film: Vanguard: Sex, Lies, and Cigarettes.
http://solocybercity.wordpress.com/2010/05/27/dunia-gempar-ada-balita-merokok-40-batang-per-hari/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar